Apa itu Al-Qur'an? (Menurut Ulama)

by - July 24, 2018

Definisi Al-Qur'an

Hampir semua ilmu mengawali materinya dengan mendifinisikan sesuatu yang menjadi objek bahasan dari ilmu tersebut. Demikian pula dengan Ulumulquran, karena yang menjadi pokok masalah dari ilmu ini adalah alqur'an, maka mari kita lihat apa dan bagaimana proses para ulama mendifinisikan Alqur'an. 

Kata Qur'an pada mulanya diambil dari akar kata qara'a, qira'atan, qur'anan. Misalnya seperti dalam firman Allah SWT : (Al‐Qiyamah [75] : 17 ‐ 18), "Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya, apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu." 

Dalam struktur bahasa Arab kata Qur'an adalah masdar (infinitif) menurut wazan (tasrif, konjugasi,atau pola) "Fu'lan" Memang dalam berbagai ayatnya Allah menyebut Kitab Suci Umat Islam ini dengan sebutan Qur'an misalnya dalam (Al A'raf [7] : 204), "Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik‐baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat".
   
Banyak sekali difinisi yang yang dibuat para Ulama, tentu saja berbagai macamnya, tidak ada yang persis sama. Disini hanya akan disampaikan yang paling pas dan sesuai dalam pandangan Manna Khalil al‐Qattan (Mabahis Fi Ulumil Quran), yang mana bersumber dari bukunyalah materi ini ditulis. 

Yang paling mudah memang mendifinisikan Alqur'an secara kongkrit, misalnya : "Alquran adalah bismillahir rahmaanir rahim, alhamdulillahi rabbil alamin sampai dengan minal jinnatii wannas." namun untuk lebih mendekati maknanya dan agar benar‐benar terbedakan dengan yang lainnya maka para ulama mendifinisikan Alqur'an dengan : "Qur'an adalah Kalam (firman) Allah yang diturunkan kepada Muhammad S.A.w. yang membacanya merupakan suatu ibadah" 

Dalam difinisi tersebut, "Kalam" atau kata merupakan statement yang meliputi segala kalam, namun dengan menghubungkannya kepada "Allah" maka "Kalamullah" menunjuk secara tegas dan spesifik, jadi tidak termasuk kalam (kata) manusia, jin dan malaikat. 

Dengan memakai kata "yang diturunkan" maka tidak termasuk Kalam Allah yang sudah khusus menjadi milik‐Nya, seperti yang terungkap dalam firman‐Nya : (Al‐Kahfi [18] : 109) "Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat‐kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat‐kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)" atau (Luqman [31] : 27) "Dan seandainya pohon‐pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis‐habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." 

Dengan membatasi apa yang diturunkan itu hanya "kepada Muhammad S.A.W. maka tidak termasuk yang diturunkan kepada Nabi‐Nabi sebelumnya seperti Taurat, Injil dan yang lainnya. 

Dan dengan dikatakan "yang membacanya merupakan suatu ibadah" maka terbedakanlah ketika kita membaca hadits ahad maupun hadits kudsi, sebab membacakan hadits tidaklah sama dengan membaca Qur'an.

sumber : Mabahis Fi Ulumil Quran - Mana Al-Qathan

You May Also Like

0 comments